Minggu, 01 Desember 2013

LAPORAN PRAKTIK TEKNIK PENYULUHAN PERTANIAN


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyusun Laporan  Praktik Teknik Penyuluhan Pertanian  Laporan ini disusun dan ditulis dalam rangka melengkapi hasil kegiatan Praktik yang sudah dilaksanakan di kelompok tani Tani Mukti Desa Pagelaran dan di kelompok tani Tani makmur Desa Suka Makmur  Kecamatan Ciomas  Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen pengajar mata kuliah teknik  penyuluhan pertanian  , dan semua Pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan praktik serta  dalam penyelesaian laporan  ini.
Kami  menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Laporan Praktek  ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan dimasa yang akan datang.






                                                                                 Bogor,    07 Desember   2013



                                                                                      Penulis

 

                                                                                                                                                


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
PENDAHULUAN ...........................................................................         1
Latar Belakang ................................................................................. 1
Tujuan ............................................................................................... 4
Manfaat  ...........................................................................................  4
              Tinjaun Teoritis  ......................................................................................... 5
Waktu dan Tempat ........................................................................... 8
Metode Pelaksanaan  ......................................................................  8
Hasil dan Pembahasan......................................................................... 9
Hasil  ................................................................................................ 9
Pembahasan .................................................................................  12
KESIMPULAN .....................................................................................................  15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................  16
Lampiran I foto kegiatan Praktik Penyuluhan pertanian di Desa
Pegelaran  ............................................................................................................ 17
Lampiran Ii foto kegiatan Praktik Penyuluhan pertanian di Desa
Suka makmur....................................................................................................... 19


 
Pendahuluan
Latar Belakang
Metode Penyuluhan Pertanian adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan pertanian oleh penyuluh pertanian kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar mereka tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru. Umumnya pesan terdiri dari sejumlah simbol dan isi pesan inilah yang memperoleh perlakuan. Bentuk perlakuan tersebut memilih, menata, menyederhanakan, menyajikan dll. Dilain pihak simbol dapat diartikan kode-kode yang digunakan pada pesan. Simbol yang mudah diamati dan paling banyak digunakan yaitu bahasa. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh penyuluh pertanian atau sumber untuk memilih serta menata isi pesan dan simbol yang digunakan pada pesan dapat dikatakan teknik penyuluhan pertanian. Dilain pihak kegiatan penyuluhan pertanian terlibat dalam proses belajar mengajar karena penyuluhan termasuk dalam sistem pendidikan non formal. Sesuai dengan tujuan , proses belajar mengajar dalam penyuluhan pertanian atau sumber untuk memilih serta menata isi pesan dan simbol yang digunakan pada pesan dapat dikatakan teknik penyuluhan pertanian. Dilain pihak kegiatan penyuluhan pertanian terlibat dalam proses belajar mengajar karena penyuluhan termasuk dalam sistem pendidikan non formal. Sesuai dengan tujuan , proses belajar mengajar dalam penyuluhan pertanian menghendaki retensi yang tinggi atau efek yang maksimal. Untuk memperoleh retensi yang tinggi, setiap audien memerlukan belajar yang berulang. Dengan demikian teknik penyuluhan pertanian dapat didefinisikan sebagai keputusan keputusan yang dibuat oleh sumber atau penyuluh dalam memilih serta menata simbul dan isi pesan menentukan pilihan cara dan frekuensi penyampaian pesan serta menentukan bentuk penyajian pesan.
Berbagai metode penyuluhan pertanian yang telah dikembangkan oleh Institusi penyuluhan pertanian di Indonesia sejak ”tempo doeloe” sampai sekarang merupakan khazanah pengetahuan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Untuk itu perlu dibahas berbagai metode penyuluhan pertanian yang pernah diterapkan di Indonesia hingga kini sebagai bahan acuan bagi para penyuluh pertanian, pengelola penyuluhan pertanian dan para peneliti serta pihak terkait yang menaruh minat pada perkembangan dan pengembangan penyuluhan pertanian. Metode penyuluhan pertanian yang banyak digunakan dalam penyuluhan pertanian di masa lalu, lebih banyak memperankan penyuluhnya dibanding dengan para petani beserta keluarganya. Maka sejalan dengan Era Otonomi Daerah, maka metode penyuluhan pertanian yang digunakan hendaknya lebih banyak memperankan petani beserta keluarganya sedang para penyuluh pertanian secara berangsur menjadi fasilitator atau hanya sebagai narasumber. Rendahnya produktivitas disebabkan antara lain karena tingkat pendidikannya rendah, sehingga untuk meningkatkan kualitasnya diperlukan pendidikan yang cocok bagi para petani bukan melalui jalur pendidikan formal di sekolah, tetapi melalui jalur pendidikan non formal yang bersifat kemitraan, pemecahan masalah dikelompok, keputusan bersama dengan anggota kelompok, belajar lewat pengalaman, melakukan, mengalami, dan menemukan sendiri, teori dan praktek di lapangan,
Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional dari waktu ke waktu. Ke depan, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk pekarangan, dalam menyediakan pangan bagi keluarga. Kementerian Pertanian menginisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Apabila RPL dikembangkan dalam skala luas, berbasis dusun (kampung), desa, atau wilayah lain yang memungkinkan, penerapan prinsip Rumah Pangan Lestari (RPL) disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).
 Selain itu, KRPL juga mencakup upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dan lainnya), lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhan pangan merupakan bagian dari hak azasi individu. Pemenuhan pangan juga sangat penting  sebagai komponen dasar untuk mewujudkan  sumber daya manusia yang berkualitas.  Mengingat pentingnya memenuhi kecukupan pangan, maka setiap negara akan mendahulukan pembangunan ketahanan pangannya sebagai fondasi  bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Sementara ketahanan pangan  merupakan  kondisi terpenuhinya kebutuhan  pangan  bagi rumah  tangga  yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik  dari jumlah maupun mutu, aman merata dan terjangkau. Dari pengertian tersebut , perwujudan ketahanan pangan  dapat dipahami, terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersedian yang cukup, pangan berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin,  dan meneral serta turunannya. 
Serangan OPT pada produksi padi seringkali menimbulkan kerugian yang cukup besar. Beragam cara telah dilakukan untuk mengendalikan keberadaan OPT di lapangan. Sehingga kehadirannya tidak lagi menimbulkan kerusakan tanaman dan kerugian hasil produksi. Bermacam-macam teknik telah dikembangkan untuk mengendalikan OPT pada tanaman padi. Demikian pula untuk mengendalikan serangan hama walang sangit, telah ditemukan dan dipraktekkan beberapa cara pengendalian yang cukup baik dan effektif mengendalikan keberadaan walang sangit di lapangan.
Pemilihan beragam cara yang digunakan untuk mengendalikan walang sangit ini ditujukan untuk menyelamatkan hasil produksi padi atau gabah dari kerusakan akibat serangan walang sangit. Secara langsung diharapkan penerapan cara pengendalian walang sangit dapat mempertahankan jumlah /kuantitas hasil produksi dan secara tidak langsung diharapkan berbagai cara pengendalian yang diterapkan tesebut dapat mempertahankan kualitas beras tetap baik dan sehat, terhindar dari grain dis-coloration, sehingga beras yang dihasilkan tetap padat berisi, bersih, berwarna putih normal, berbau wangi khas beras dan berasa pahit. Tujuan akhirnya adalah harga beras tidak jatuh dan kerugian petani secara ekonomis ditekan.












Tujuan
1.    Untuk memberikan penyuluhan pertanian tentang pemanfaatan lahan pekarangan
2.    Untuk menambah wawasan para anggota kelompok tani dalam pemanfaatan lahan pekarangannya.
3.    Untuk memberikan penyuluhan pertanian tentang pengendalian hama walang sangit.
4.    Untuk memberikan cara pengendalian hama walang sangit secara terpadu.

Manfaat
1.    Para anggota kelompok tani bisa memanfaatkan lahan pekarangannya untuk ditanami sayuran.
2.    Para anggota kelompok tani mampu menerapkan teknologi pemanfaatan lahan pekarangannya.
3.    Para anggota kelompok tani mau menerapkan teknologi pengendalian hama walang sangit secara terpadu dengan menggunakan pestisida nabati.
4.    Para anggota kelompok tani dapat mengetahui siklus serangan hama walang sangit sehingga dalam pengendaliannya bisa dilakukan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan bahan-bahan nabati dalam pengendalian serangan hama walang sangit sehingga dapat menjaga kelestarian lingkungan.


















Tinjauan Teoritis

Penyuluahan pertanian adalah sebagai proses penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan upaya perbaikan cara-cara berusha tani demi tercapainya peningkatan pendapatan dan perbaikan kesejahteraan keluarganya. (Mardikanto 1993), Sedangakan departemen pertanian (2002) menyatakan bahwa penyuluhan pertanian adalah pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan non formal dibidang pertanian agar mereka mampu menolong dirinya sendiri, baik di bidang ekonomi, sosial maupun politik sehingga peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka tercapai. Pembangunan pertanian selalu diindentikkan dengan kegiatan produksi usahatani dan kurang memberi kesempatan untuk pengembangan produksi hilir sehingga dalam 10 tahun terakhir, peningkatan produktivitas usahatani di tingkat petani relatif stagnan dan kapasitas produksi pertanian secara nasional semakin terbatas. Hal ini disebabkan peningkatan kualitas dan mentalitas sumber daya manusia pertanian berjalan lambat (Deptan, 2007).
Penyuluh pertanian adalah salah satu komponen esensial dalam suatu sistem penyuluhan pertanian. Fungsi dan peran penyuluh pertanian dalam sistem penyuluhan pertanian, yaitu: (1) memfasilitasi proses pemberdayaan pelaku utama dan pelaku usaha, (2) mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat mengembangkan usahanya, (3) meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha, (4) membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya  saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik dan berkelanjutan, (5) membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usaha, (6) menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan, dan (7) melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan yang maju dan modern bagi pelaku utama dan pelaku usaha secara berkelanjutan (Kepmennakertrans No. 29 tahun 2010).
Metode Penyuluhan Pertanian adalah  cara atau teknik penyampaian materi penyuluhan pertanian melalui saluran / media komunikasi oleh penyuluh pertanian kepada  petani beserta keluarganya agar mereka bisa dan membiasakan diri menggunakan teknologi baru, baik secara langsung ataupun tidak langsung.Tujuan Membantu dalam menyampaikan materi penyuluhan pertanian kepada petani beserta keluarganya agar materi tersebut bisa diterima secara efektif oleh petani dan bisa menimbulkan perubahan-perubahan perilaku sesuai dengan yang diinginkan. Prinsip-prinsip metode penyuluhan,pengembangan untuk berfikir kreatif,lokasi kegiatan petani,keterikatan dengan lingkungan sosial, keakraban hubungan dengan petani terciptanya perubahan.
Ceramah adalah penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah “berbicara". Dalam ceramahnya kemungkinan guru menyelipkan pertanyaan pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa terutama mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok pokok penting, yang dikemukakan oleh guru; bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa
            Metode ceramah merupakan salah satu metode penyuluhan yang dilakukan melalui tutur kata atau penjelasan lisan oleh penyuluh langsung kepada petani atau sasaran. Metode ini digunakan untuk menyampaikan pesan, informasi, penjelasan dan atau uraian tentang suatu teknologi pokok bahasan atau masalah secara lisan.
Diskusi merupakan pertemuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pendapat mengenai suatu kegiatan yang akan diselenggarakan  untuk mengumpulkan saran-saran  untuk memecahkan  masalah yang dihadapi Petani dan Kelompok. Tujuannya untuk mengajak petani untuk membicarakan dan memecahkan  masalah yang berkaitan dengan penerapan teknologi baru, penyaluran sarana produksi,pemasaran hasil,pengorganisasian kegiatan kelompok tani dan kelestarian sumberdaya alam.
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Metode ini dimaksudkan untuk meninjau pelajaran yang lalu agar para murid memusatkan lagi perhatiannya tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkan pada pelajaran berikutnya dan untuk merangsang perhatian murid. Metode ini dapat digunakan sebagai spersepsi, selingan, dan evaluasi. (Drs. Imansjah Ali Pandie; 1984, 79).
Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan / membuktikan secara nyata  tentang cara dan atau hasil penerapan teknologi  pertanian  yang telah terbukti menguntungkan  bagi petani nelayan. Berdasarkan sasaran yang akan dicapai demonstrasi dibedakan  atas demostrasi usahatani perorangan (demplot), demonstrasi usahatani kelompok (demfarm), demonstrasi usahatani gabungan kelompok(dem area). Demonstrasi cara Demonstrasi ini mempertunjukkan suatu cara kerja baru atau suatu cara lama tetapi dilakukan dengan lebih baik, misalnya bagaimana cara menanam padi menurut sistem tanam jajar Legowo, cara melakukan vaksinasi, cara pembuatan pupuk organik (bokasi), dan sebagainya. Metode demonstrasi cara tidak mempersoalkan mengenai hasilnya, tetapi bagaimana melakukan suatu cara kerja. Yang perlu diingat bahwa demonstrasi bukanlah suatu percobaan atau pengujian, tetapi suatu usaha pendidikan atau percontohan. Untuk kegiatan demonstrasi diperlukan langkah kerja sebagai berikut: 1) persiapan, 2) pelaksanaan, dan 3) pengakhiran.
Model Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah rumah yang memiliki pekarangan yang cukup untuk dimanfaatkan secara intensif melalui penanaman tanaman pangan yang produktif bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan mengacu pada prinsip ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan, ketiga konservasi sumberdaya genetik dan upaya lestari melalui kebun bibit. Dengan KPRL diharapkan pemenuhan kebutuhan pangan terpenuhi bahkan dapat meningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga maupun masyarakat. Prinsip dasar KRPL adalah: (i) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, (ii) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, (iii) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), dan (iv) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa menuju (v) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Walang sangit (Leptocorisa oratorius) merupakan hama utama pada padi yang menyerang dengan cara menghisap cairan bulir padi pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan bulir gabah menjadi hampa beras berubah warna dan mengapur. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu.




Waktu dan Tempat

Kegiatan praktek penyuluhan pertanian dilakukan pada tanggal 30 November – 01 Desember 2013 bertempat di Kelompok Tani Mukti Desa Pagelaran dan di Kelompok Tani Makmur Desa Suka Makmur Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor.

Metode Pelaksanaan
Dalam kegiatan praktek penyuluhan pertanian yaitu dengan menggabungkan beberapa metode antara lain metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab dan metode demonstrasi cara.
























Hasil Dan Pembahasan
Hasil :
Prinsif KRPL Dibangun dari kumpulan rumah tangga yang mampu mewujudkan kemandirian pangan melalui pemanfaatan “Pekarangan”, dapat melakukan upaya diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan sekaligus pelestarian tanaman pangan untuk masa depan, serta tercapai pula upaya peningkatan kesejahteraan keluarga  dan masyarakat.  Rumah Pangan Lestari – RPL Tempat tinggal bagi keluarga atau rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan secara intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara bijaksana sehingga menjamin kesinambungan persediaanya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas, nilai dan keanekaragamannya. Diwujudkan dalam satu Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Dusun/kampung yang telah menerapkan prinsif Rumah Pangan Lestari dengan menambahkan intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan desa dan fasilitas umum,  lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Satu kawasan harus menentukan komoditas pilihan yang dapat dikembangkan secara komersial. Menjamin keberlanjutan usaha pemanfaatan pekarangan, kawasan dilengkapi dengan kebun benih/bibit yang dikelola masyarakat secara partisipatif.
Dalam kegitan praktik penyuluhan pertanian di kelompok tani tani mukti kegiatan yang dilaksanakan adalah sosialisasi tentang Model Kawasan Rumah Pangan lestari.dimana dalam kegiatan ini para anggota kelompok tani diberi teknologi pemanfaatan lahan pekarangan mereka dengan teknologi yang sederhana dan ramah lingkungan. Adapun uraian materi yang di berikan yaitu memberikan pengertian apa itu pekarangan. Dalam kegiatan ini pekarangan adalah lahan yang berada di sekitar rumah yang bisa dimanfaatkan untuk ditanami sayuran, buah-buahan, ternak dan kolam ikan untuk memenuhi gizi keluarga, memelihara  kesehatan, sumber penghasilan sampingan serta memperindah lingkungan disekitar rumah. Selain itu juga memberikan pengetahuan kepada kelompok tani jenis-jenis sayuran apa saja yang bisa dikembangkan dalam pemanfaatan lahan pekarangan mereka. Adapun jenis sayuran yang bisa dikembangkan antara lain Kacang panjang;  Bayam; Kangkung; Terung; Paria;  Labu; Gambas; Beluntas; Kecipir; Kemangi;  Mentimun;  Cabe; Seledri; Selada,bawang daun;  Tomat; dan lain-lain. Model Budidaya Basis Komoditas Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak) , Pot/ polibag , Benih/bibit                      
Disamping itu juga dalam kegiatan ini para anggota kelompok tani di berikan contoh penataan pekarangan untuk manfaatkan sebagai lahan menanam sayuran serta memberikan wawasan dalam penataannya agar pekarangan termanfaatkan secara optimal.
Selain itu juga para anggota kelompok tani diberikan teknologi untuk memanfaatkan limbah rumah tangga untuk dijadikan kompos serta memanfaatkan botol dan kaleng bekas untuk media tanam serta memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar rumah meraka untuk dimanfaatkan sebagai media tanam. Pemanfaatan bamboo sebagai tempat atau rak untuk menyusun polibeg atau media tanam lainnya agar pekarangan menjadi indah dan rapi.
Dalam kegiatan penyuluhan pertanian tentang pengendalian hama walang sangit di kelompok tani makmur desa Suka Makmur Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor hasil penyampain materi tentang pengendalian hama walang sangit terdapat beberapa cara pengendalian yang dapat diterapkan dan telah terbukti mampu mengendalikan walang sangit di lapangan, antara lain :
Ø  Pengendalian dengan sanitasi lingkungan
Ø  Pengendalian secara kultur teknik
Ø  Pengendalian secara biologi
Ø  Pengendalian berdasarkan perilaku serangga
Ø  Pengendalian dengan bahan tanaman yang menghasilkan bau penolak Walang sangit     
Walang sangit (Leptocorisa oratorius) merupakan hama utama pada padi yang menyerang dengan cara menghisap cairan bulir padi pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan bulir gabah menjadi hampa beras berubah warna dan mengapur. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu.
Cara menyerang walang sangit pada tanaman padi :
Ø  Aktif pada pagi dan sore hari
Ø  Menyerang bulir pada saat masak susu.
Ø  Menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan bulir sehingga bulir menjadi hampa atau separuh hampa.
Ø  Apabila merasa terganggu atau dalam bahaya akan mengeluarkan bau yang tidak sedap untuk mempertahankan diri.
Gejala serangan yang disebabkan oleh walang sangit :
Ø  Fase padi yg rentan adalah mulai keluarnya malai hingga masak susu.
Ø  Ada bekas tusukan berupa bintik berwarna abu-abu kekuning-kuningan
Ø  Disekeliling bekas tusukan lama kelamaan berubah berwarna coklat.
Ø  Kerusakan yg terjadi ialah gabah menjadi hampa, beras berubah warna dan mengapur.
Ø  Terdapat 5 ekor walang sangit pada tiap 9 rumpun tanaman akan merugikan hasil sebesar 15%, sedangkan 10 ekor pada 9 rumpun tanaman akan mengurangi hasil sampai 25%.
Pengendalian walang sangit
Ø  Membersihkan gulma pada pematang, pertanaman, dan di sekeliling tanaman padi, karena walang sangit datang di pertanaman sebelum tanaman padi berbunga dan hidup pada gulma
Ø  Memasang perangkap dengan menggunakan yuyu (kepiting sungai) yang dihancurkan kemudian dioleskan pada kain dan direntangkan di pertanaman, setelah berkumpul di kain kemudian disemprot dengan insektisida.
Ø  Menggunakan insektisida kimia (dengan bahan aktif yang dianjurkan) bila populasi sudah mencapai ambang ekonomi yaitu 10 ekor/20 rumpun.



Pengendalian dengan bahan kimia (pestisida), pengendalian walang sangit dengan bahan kimia (pestisida) ini dapat di lakukan apabila keberdaan populasi hama sudah sampai pada ambang pengendalian yaitu 6 ekor walang sangit /m2. Pestisida yang di gunakan harus yan terdaftar dan di ijinkan untuk pertanaman padi, di aplikasikan pada saat periode masak susu dan tetap mengacu pada 6 tepat penggunaan pestisida (tepat jenis, dosis/konsentrasi, sasaran, waktu, tempat dan cara aplikasinya).
Dengan mengendalikan keberadaan walang sangit sejak dini, sejak pertanaman padi memasuki periode masak susu, maka produksi gabah akan dapat diselamatkan kuantitas dan kualitasnya. Pertanaman padi yang bebas dari serangan walang sangit akan menghasilkan produksi gabah yang bermutu baik dan produktifitas yang optimal. Dengan pengendalian yang optimal terhadap walang sangit akan dihasilkan beras yang baik, dengan ukuran dan beras bernas, berwarna putih normal, beraroma wangi khas beras dan berasa enak/tidak pahit.


Pembahasan
Dalam kegiatan penyuluhan pertanian tentang pemanfaatan lahan pekarangan para anggota sangat antusias dalam mengikuti pemaparan materi yang disampaikan. Dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh beberapa anggota tentang pemanfaatan lahan pekarangan dimana mereka bertanya cara pembuatan rak yang terbuat dari bambu serta bagaimana memanfaatkan limbah rumah tangga untuk dijadikan kompos serta penataan kolam ikan yang ideal sehingga bisa ditanami sayuran.
Dalam hal ini kelompok kami menjawab bagaimana cara membuat rak yang terbuat dari bambu, mengolah limbah rumah tangga menjadi kompos dan penataan kolam agar dapat dimanfaatkan untuk ditanami sayuran. Dalam pembuatan rak yang terbuat dari bambu hal yang utama adalah menyediakan bahannya yaitu bambu, paku, tali karet serta alat yang digunakan adalah gergaji, parang dan martil. Setelah bahan tersedia lalu membuat model atau rancangan rak yang akan dibikin dalam hal ini rak di buat menjadi 3 susun, seperti tangga, dengan ukuran pertama 50 cm, 70 cm dan 100 cm dengan panjang 200 meter atau disesuaikan dengan lahan pekarangan yang dimiliki. Setelah semua sudah diukur lalu potongan-potongan bambu di susun dan di gabung satu persatu sehingga model yang diinginkan dapat terwujud. Setelah rak selesai dibikin siap untuk di gunakan untuk menyusun polibeg agar keliahatan rapid an memiliki seni keindahan dan tanaman dalam polibeg aman dari serangan binatang yang ada disekitar lingkungan rumah serta rak mudah dipindahkan ketempat yang lain.
Untuk pembutan kompos dari limbah rumah tangga anggota kelompok disarankan untuk mengumpulkan sisa-sisa sayuran yang sudah tidak dimanfaatkan untuk dijadikan kompos, dengan memasukan bekas-bekas sayuran kedalam wadah kemudian ditutup rapat sampai 1 minggu setelah itu bisa dicampur pupuk kandang untuk ditaburkan atau untuk campuran media tanam serta memanfaatkan hasil air bekas cucian beras sebagi pupuk cair. Selain itu juga para anggota kelompok tani bisa memanfaatkan bungkus bekas detergen sebagai pengganti polibeg dan memanfaatkan kaleng atau bekas botol air mineral sebagai tempat media tanam yang ramah lingkungan.
Dalam memanfatkan kolam ikan agar bisa ditanami syuran para anggota kelompok tani disarankan untuk menanam sayuran di polibeg sehingga bisa disusun dan tidak banyak memakan tempat, selain itu juga bisa membuat rak yang didisain sesuai tempatnya untuk menyusun polibeg atau media tanam lainnya. Hal ini bertujuan agar para anggota kelompok tani mendapatkan penghasilan tambahan guna memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.
Dalam kegiatan penyuluhan pertanian tentang pengendalian hama walang sangit para peserta sangat antusias dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh penyaji. Hal ini membuat wawasan dan pengetahuan para anggota kelompok tani tentang hama walang sangit dimana sebelumnya para anggota kelompok tani tidak mengetahui serangan walang sangit dan gejala serangannya.
Beberapa anggota kelompok tani menanyakan pengendalian dengan cara mengunakan pestisida nabati karena selama ini para petani dalam pengendalian hama walang sangit menggunakan pestisida kimia yang sangat berbahaya tanpa menggunakan dosis yang tepat. Disamping itu juga para anggota kelompok tani menanyakan tentang cara pengendalian secara kultur teknik dan dalam memberikan pengertian tentang apa itu kultur teknik kelompok kami menjelaskan tentang pengendalian kultur teknik yaitu pengendalian ini dilaksanakan dengan mengatur pola tanam padi. Untuk mengendalikan keberadaan walang sangit di lapangan, hendaknya dilakukan penanaman padi secara serentak pada hamparan yang luas. Pada saat padi menjelang musim berbunga, walang sangit akan datang dan berkembang biak satu generasi sebelum pertanaman padi tersebut dipanen. Banyaknya generasi walang sangit dalam satu hamparan pertanaman padi tergantung pada selisih waktu tanam pada hamparn tersebut. Semakin serempak penanaman padi dilakukan semakin sedikit jumlah generasi walang sangit pada hamparan tersebut, dengan demikian selisih waktu tanam dalam satu hamparan tidak boleh lebih dari 2,5 bulan. Selain itu dapat pula diberikan tanaman perangkap, berupa tanaman padi yang ditanam dalam pot-pot, yang ditanam beberapa hari sebelum penanaman padi di hamparan yang luas. Tanaman perangkap tersebut akan lebih dulu memasuki masa berbunga dan pengisian bulir padi/gabah (periode masak susu), sehingga walang sangit akan lebih dulu berkunjung dan menyerang tanaman padi dalam pot tersebut, untuk selanjutnya akan lebih mudah menangkap dan mengendalikan walang sangit pada tanaman tersebut.







KESIMPULAN

Model Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah rumah yang memiliki pekarangan yang cukup untuk dimanfaatkan secara intensif melalui penanaman tanaman pangan yang produktif bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan mengacu pada prinsip ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan, ketiga konservasi sumberdaya genetik dan upaya lestari melalui kebun bibit. Prinsif KRPL Dibangun dari kumpulan rumah tangga yang mampu mewujudkan kemandirian pangan melalui pemanfaatan “Pekarangan”, dapat melakukan upaya diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan sekaligus pelestarian tanaman pangan untuk masa depan, serta tercapai pula upaya peningkatan kesejahteraan keluarga  dan masyarakat.
Walang sangit (Leptocorisa oratorius) merupakan hama utama pada padi yang menyerang dengan cara menghisap cairan bulir padi pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan bulir gabah menjadi hampa beras berubah warna dan mengapur. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu. Dengan mengendalikan keberadaan walang sangit sejak dini, sejak pertanaman padi memasuki periode masak susu, maka produksi gabah akan dapat diselamatkan kuantitas dan kualitasnya. Pertanaman padi yang bebas dari serangan walang sangit akan menghasilkan produksi gabah yang bermutu baik dan produktifitas yang optimal.













DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian. 1995. Pedoman Pemilihan Metode Penyuluhan. Pertanian.  Pusat Penyuluhan Pertanian.  Jakarta.
Soediyanto Padmowihardjo. 1994. Metode Penyuluhan Pertanian. Modul.  Universitas Terbuka.  Jakarta.
Van Den Bandan HS  Hawkins. 1998. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius.Yogyakarta
Andripriwanda.wordpress.com/2013/.../pengendalian-hama-walang-sangit
       (didownload tanggal 16 November , 19.30 WIB WIB )
dinpertan.grobogan.go.id/laboratorium/220-hama.html‎ (didownload tanggal 17 November , 20.21 WIB)
balittra.litbang.deptan.go.id/prosiding06/Document23.pdf‎ (didownload tanggal 17 November , 20.30 WIB)
www.gerbangpertanian.com/.../cara-mengendalikan-hama-walang-sangit...‎ (didownload tanggal 17 November , 20.35 WIB)
lampung.litbang.deptan.go.id/.../index.php?...article...mkrpl...‎ (didownload tanggal 18 November , 19.15 WIB)
www.opi.lipi.go.id/data/.../data/13086710321319802404.makalah.pdf‎ (didownload tanggal 18 November , 19.20 WIB)
www.slideshare.net/.../manajemen-perbenihan-krpl-bhn-ajar-darmadi-edi.. (didownload tanggal 18 November , 19.20 WIB)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar